Jumat, 22 Oktober 2010

Premiere di Jiffest 2010 - HOPE a documentary film



Komentar poster film:
Sangat dokumenter. Namun sebenarnya bisa di-desain yang lebih 'mengundang' mata memandang, lebih tegas & lugas, se-lugas filmnya yang sangat menarik!

HOPE - 2010

Synopsis
Indonesia is 65 years of age by this year 2010, mature enough for being a nation. But in Indonesia you can’t say that being mature means you’re wealthy enough in any way. We are politically corrupt, nationwidely stupid and you need all the money on earth to pay your education and health.
But! Indonesia has its own great individuals lies beneath the whole archipelago. So…Indonesia still has their HOPE.

Duration : 76 minutes
Genre : Documentary
Year of Production : 2010
Production : BOGALAKON PICTURES

CHAPTER 1, The Minorities
Director SANTRIANOV
Production Designer EDMOND WAWORUNTU
Producer ANDIBACHTIAR YUSUF
Director of Photography SYAMUL ‘CHEMONK’FAIZ TJOTJONA
Editor SHANI BUDI PANDITA
Production Assistant ADAL BONAI

CHAPTER 2, The Majorities….To Die For
Producer AMIR POHAN, ANDIBACHTIAR YUSUF
Director ANDIBACHTIAR YUSUF
Story ANDIBACHTIAR YUSUF
Director of Photography GIRINDHRO SETYO HARIMURTI
Other Camera Works ANDIBACHTIAR YUSUF, BAMBANG SETIABUDHI
Editor DARWIN NUGRAHA
Music ISMAIL BASBETH
Production Assistant BAMBANG SETIABUDHI

CHAPTER 3, The Nation
Director ANDIBACHTIAR YUSUF
Co-Director SANTRIANOV
Production Designer EDMOND WAWORUNTU
Music Composed & Performed by KOIL, PANDJI
Editor DARWIN NUGRAHA, SHANI BUDI PANDITA
Director Of Photography SYAMSUL ‘CHEMONK’ FAIZ TJOTJONA
Others Camera Works ANDIBACHTIAR YUSUF, EDMOND WAWORUNTU, SANTRIANOV, HASIAN DAMANIK
Still Photographer BAGUS EKOVICH
Producer ANDIBACHTIAR YUSUF
Story ANDIBACHTIAR YUSUF, EDMOND WAWORUNTU, SANTRIANOV
Production Assistant ADAL BONAI, AGUNG SAPUTRO

Tagline : A documentary about…….HOPE
Format : Digital

Director’s Filmography (feature length)
1. The Jak (2007)
2. The Conductors (2008)
3. Romeo Juliet (2009)


Official release:
“Indonesia akan begini-begini aja kalo loe cuma bisa protes,” ujar Pandji Pragiwaksono, inilah salah satu bagian penting dari film Hope karya terbaru dari Andibachtiar Yusuf. Sineas yang pernah melahirkan The Jak (2007), The Conductors (2008) dan Romeo Juliet (2009), sutradara muda yang kerap melahirkan karya-karya yang relatif unik dibanding arus yang muncul di jagad perfilman Indonesia.

“Bagi saya film yang baik adalah yang bisa menunjukkan situasi kekinian suatu bangsa,” ujar Yusuf tentang karya-karyanya. Lewat Hope yang rencananya akan ber-World Premiere di Jakarta International Film Festival 2010 ini , lulusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran ini melukiskan kegelisahannya terhadap situasi bangsanya yang disebutnya sebagai “Gak pernah kemana-mana, seolah segala potensi itu tidak ada,” sembari menambahkan “Tapi nasib suatu bangsa tidak akan pernah berubah jika tidak diubah sendiri oleh bangsa itu,”

Hope adalah sebuah gambaran Indonesia masa kini, 12 tahun setelah saat yang disebut sebagai masa reformasi yang saat itu dikabarkan sebagai arus balik sejarah bangsa ini yang disebut dinaungi kegelapan di era Orde Baru.

Dokumenter berdurasi 72 menit ini dikerjakan dalam kurun waktu 8 bulan masa produksi dan 3 bulan paska produksi dan menempuh jarak perjalanan Jakarta-Bandung-Semarang-Manado hingga ke Genting di Malaysia. Dikerjakan secara gerilya oleh tim Bogalakon Pictures rumah produksi yang terus bersemboyan “Kami bukan filmmaker, kami Bogalakon,” Segala hal dibenarkan oleh tim huru hara ala Bogalakon ini, mulai dari menempel kegiatan dokumentasi kedatangan trofi Piala Dunia 2010 sampai menonton aksi tim Barongsai Kong Ha Hong di Malaysia.

Diperkuat oleh gerilyawan muda seperti Edmond Waworuntu, Chemonk Faiz Tjotjona, Santrianov dan Adal Bonai, Hope adalah karya keempat rumah produksi peraih Piala Citra 2008 dan nominasi 2009 untuk kategori Dokumenter Terbaik.

Selain akan dipresentasikan di JIFFEST, film ini akan juga dipertontonkan di sinema komersial yang memberi ruang pada karya digital seperti layaknya teknis yang digunakan oleh karya ini. Juga, film ini akan mencoba metode baru pendistribusian sinema (setidaknya untuk ukuran Indonesia) lewat tayang secara online alias streaming.

Selanjutnya, film ini akan diputar mengelilingi Indonesia lagi-lagi secara gerilya lewat pemutaran-pemutaran di komunitas yang tentu saja akan dibarengi dengan workshop dan diskusi.

Rekomendasi:
Film dokumenter 3 babak! Itu ringkasnya mengenai film sarat realita sosial dan politik ini. Pengemasannya menarik, membuat mata tidak akan lepas dari layar. Saat-saat emosional, nyentil, celetukan lucu dan sindiran tentang keadaan saat ini menjadi menu utama sajian film berdurasi 76 menit ini. Babak pertama dibuka dengan 'koleksi lama' sang sutradara, mengambil tema 'mayoritas', mengambil angle menarik dengan membandingkan 2 tingkah polah dan komentar partisipan partai yang berseberangan, dihadirkan bergantian dengan editing yang menarik, sehingga sering memancing tawa spontan karena dialog khas 'aktor'-nya yang apa adanya. Tanpa skrip tentunya.

Babak kedua mengangkat tema 'minoritas', dalam hal ini budaya barongsai yang baru kembali bangkit di tanah air yang menjadi sorotan utama. Bagaimana kisah budaya ini seolah 'ditiadakan', hingga muncul lagi menjadi penambah warna budaya di Indonesia, dan bagaimana pencapaiannya di mata Internasional, itu yang menjadi pembahasan dalam segmen ini. Semangat kemenangan, cinta budaya, perjuangan meraih yang terbaik dan semangat orang-orang dibalik 'singa' tentu akan sangat inspiratif untuk disaksikan. Tahukah anda, bahwa barongsai bukan hanya sekedar budaya dari Cina, tapi kini sudah menjadi olahraga dunia!

Bagian penutup, dengan durasi yang paling dominan, dimainkan dengan baik oleh Panji dan Aryo 'Koil' Verdyantoro. Cara pandang manusia Indonesia penuh harapan, optimis dan dari sudut pandang yang berbeda, itu yang menjadi pokok penyampaian segmen terakhir ini. The nation. Anda akan menemukan spirit nasionalisme dalam gerak karya, dan terimplementasi dalam keseharian. Ringkasnya seperti apa? tergambar dalam dokumenter ini. Juga akan ditemui kalimat-kalimat lugas yang 'nyentil' dan tajam, membuat penonton akan bertanya pada dirinya. Apa yang sudah diperbuat untuk negeri ini?

Menarik juga akan ditemukan kalimat seperti: 'berhentilah protes, berhentilah jadi orang yang naif', 'kasihan untuk orang-orang bermental pembantu', atau kalimat 'karena lu kebanyakan nanya, terus kapan actionnya?'. Tapi jangan salah sangka dulu! Penggunaan kalimat itu tidak seberat apa yang dibaca saat ini. Saat dimunculkan dalam film, dialog tersebut terasa pas, dan tepat sasaran. Bahkan tak jarang membuat terpingkal tertawa. Permainan editing film ini patut mendapat atensi khusus, karena berhasil membawa potongan-potongan yang berbeda, bersatu padu dalam gambar utuh yang menyampaikan pesan sang sutradara.

Film bergenre dokumenter terbilang jarang hadir di layar Indonesia. Sangat layak anda tunggu penayangannya, HOPE a documentary about...

Jiffest 2010
Blitzmegaplex early 2011


Tetap cintai film Indonesia dulu, kini & nanti.
Tweet us your #testimoni on twitter, just mention @film_indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Film Indonesia

Kami Kirimkan Posting Terbaru Melalui Email Anda:

Website Resmi OfficialfilmIndonesia.com