Kamis, 23 September 2010

Perjalanan 'The Forbidden Door' di Fukuoka Film Festival 2010



Pintu Terlarang (The Forbidden Door)

di

Focus On Asia International Film Festival 20

By: Sheila Timothy - Produser 'Pintu Terlarang' 2009


Setelah hampir 2 tahun, dan berkeliling hampir di 20 Festival di dunia, Pintu Terlarang (The Forbidden Door) bulan September ini, mendapat kehormatan untuk diputar di Focus On Asia Fukuoka International Film Festival 2010, Jepang. Dan perjalanan kali ini-pun menjadi spesial karena saya, beserta Joko Anwar (Penulis/Sutradara), Fachri Albar (Aktor Utama) dan Marsha Timothy (Aktris Utama) berkesempatan untuk hadir disana.



Kunjungan ke Festival Film manapun di dunia selalu merupakan suatu “mood booster” atau penyemangat ketika pulang untuk berkerja dan berkreasi lebih baik lagi. Juga selalu menimbulkan keinginan untuk berbagi dengan sesama pencinta film Indonesia, dengan harapan bahwa industri perfilman Nasional bisa lebih maju dari saat ini. Terlebih karena industri perfilman Indonesia masih belum mendapat tempat khusus di dunia bahkan di Asia sekalipun, tidak seperti negara-negara lain di Asia yang industri filmnya sudah terkenal memiliki karakteristik tertentu. Sebagai contoh film-film dari Asia Timur seperti dari Hong Kong, Cina dan Korea yang memiliki karakteristik film yang artistik tapi tetap memiliki potensi komersial, film-film Iran yang telah melahirkan berbagai maestro seperti Abbas Kiarostami, Mohsen Makhmalbaf dan Majid Majidi, atau mungkin perfilman Thailand yang banyak menghasilkan “entertainment films”. Indonesia, sayangnya masih harus terus bekerja keras berkarya menghasilkan film-film berkualitas sehingga mampu masuk dan diperhitungkan dalam kancah perfilman global.


Tahun ini merupakan Festival ke-20 untuk Focus on Asia International Film Festival. Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan film –film berkualitas dari seluruh Asia, sehingga mampu bersaing dan mendapat perhatian dunia. Masa-masa kejayaan para maestro film seperti Zhang Yimao, Chen Kaige, Im Kwon-taek dari Korea, Hou Hsiao-hsien, Edward Yang dari Taiwan dan Wong Kar-wai dari Hongkong, pun sudah mulai mendekati akhir di awal abad ke-21, sehingga kini saat-nya-lah untuk mecari talenta-talenta baru dari seluruh Asia.


Hariki Yasuhiro, Festival Director FOAFIFF, mengatakan Festival kali ini lebih menitik beratkan pada pencarian film yang bisa menjadi referensi (Reference Point Films) di Asia, disebutkan contoh film yang menurutnya bisa dikatakan sebagai reference point films adalah, “Mundane History” dari Thailand, karena memiliki trend yang berbeda dari film lain di negaranya, “The Forbidden Door sebagai “modern horror” dari Indonesia, dan “Samson & Delilah” dari Australia, yang menggambarkan tentang kehidupan Aborigin.


Di satu kesempatan wawancara Pintu Terlarang, Yasuhiro, menyatakan kekagumannya akan film Pintu Terlarang yang disebutnya sebagai jenis film post modern, yang memiliki multi dimensi, karena selain menggambarkan kedekatan hubungan keluarga antara ibu, istri dan teman dekat, juga sisi lain arsitektur baroque Indonesia yang merupakan peninggalan jaman Belanda. Yasuhiro juga mengatakan kepda saya bahwa orang-orang Jepang sangat ingin tau lebih banyak lagi tentang film-film Indonesia lainnya.


Bisa dikatakan festival kali ini Indonesia mendapat tempat terhormat, selain Sang Pemimpi menjadi film pembuka, di opening ceremony ada perangkat gamelan yang dimainkan seluruhnya oleh wanita-wanita Jepang, dan diadakan sebuah simposium yang berjudul “The charm of Indonesia Cinema-A Glimpse of Unfamiliar Indonesia” dengan pembicara : Mira Lesmana, Riri Riza dan Joko Anwar.


Ada beberapa hal lain yang sangat menarik dari Festival ini yang menurut saya dapat kita pelajari. Film-film yang dipilih dalam Festival ini disimpan dalam perpustakaan film mereka. Suatu penghargaan yang luar biasa, karena film dianggap sebagai suatu warisan budaya, sebagai bagian dalam pembentuk kebudayaan suatu bangsa. Perpustakaan Film Fukuoka yang berambisi menjadi Asian Film Center, dapat menampung 20.000 film reels dan dengan kondisi temperatur dan kelembaban yang terjaga, untuk memastikan bahwa film-film ini dapat tetap ditonton di masa yang akan datang untuk kepentingan pendidikan dan penelitian film. Satu hal yang belum dimiliki oleh Indonesia. Masih banyak film-film lama kita yang sebenarnya sangat bagus, namun tidak disimpan dengan baik, sehingga generasi muda tidak dapat menikmati dan mempelajari perkembangan film Nasional secara lengkap. Perpustakaan Film Fukuoka telah menyimpan sekitar 30 film Indonesia, diantaranya Roro Mendut (Ami Priyono), Ramadhan dan Ramona (Chaerul Umam), Oom Pasikom (Chaerul Umam), 3 Hari untuk Selamanya (Riri Riza), Mendadak dangdut (Rudi Soedjarwo) Laskar Pelangi (Riri Riza), Sang Pemimpi (Riri Riza), Pintu Terlarang (Joko Anwar).


Pada tanggal 17 September, Pintu Terlarang mendapat kesempatan untuk screening pertama, bertempat di Solaria Stage, dengan kapasitas 300 kursi yang hampir terisi seluruhnya. Setelah selesai pemutaran seperti yang biasa dilakukan dalam setiap Festival, para penonton berkesempatan untuk tanya-jawab dengan Sutradara, pemain dan saya selama 30 menit. Sesi tanya jawab ini berlangsung seru karena hampir semuanya antusias untuk bertanya terutama kepada Joko Anwar. Pertanyaan yang diajukan pun cukup mendetail, seperti apa makna nomor yang ada di pintu Herosase, apakah ada pesan-pesan tertentu yang ingin disampaikan dari pernyataan di billboard sepanjang film, apa yang mendasari Joko Anwar dan saya membuat film ini, sampai pertanyaan kepada Fachri Albar, apa trik yang dilakukan pada scene ”Christmas dinner” karena terlihat sangat nyata. Sesudah sesi tanya jawab, para penonton pun tetap antusias mengantri dengan sabar untuk berfoto dan meminta tanda tangan Marsha Timothy, Fachri Albar dan Joko Anwar.


Ada pula kesempatan TV interview oleh TV lokal FBS yang mewawancarai Joko Anwar, Marsha Timothy dan fachri Albar.



Walaupun perjalanan ke Fukuoka ini sangat singkat, namun kita masih berusaha untuk berjalan-jalan menikmati Fukuoka yang indah, dan tentu diisi dengan wisata kuliner,Fukuoka terkenal dengan makanannya, seperti; sashimi, uni, ama ebi, squid, abalone, daging Saga untuk Teppanyaki, dan Tempura yang kering dan garing. Dan yang menyenangkan adalah harga makanan di Fukuoka relatif lebih murah dibandingkan kota lain di Jepang seperti Kyoto, Osaka dan Tokyo.


Banyak sekali kuil indah disekitar Fukuoka, dan kami berkesempatan untuk mengunjungi satu kuil besar yang berada di daerah Dazaifu. Lokasinya sangat luas. Selain kuil, ada juga zen garden yang indah, dan juga ada pertokoan sepanjang jalan menuju kuil. Disitulah kami akhirnya menemukan toko souvenir “Arashi”, band Jepang yang sedang in saat ini, titipan teman kami. Sayangnya karena kesibukan masing-masing, kami harus kembali ke Jakarta pada tanggal 19 September, dan tidak berkesempatan menikmati film-film seleksi dari negara lain, juga tidak bisa menghadiri acara penutupan pada tanggal 22 September. Namun semangat kami untuk menghasilkan karya yang lebih baik terutama di film berikut Joko Anwar yaitu “Eksekutors” semakin menggebu.


Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Focus on Asia Fukuoka International Film Festival karena sambutan yang hangat dan penghargaan yang kalian berikan kepada hasil karya kami Pintu Terlarang yang dibuat dengan segenap jiwa dan hati oleh seluruh crew dan cast-nya. Semoga perfilman Indonesia dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang dihadapinya bisa semakin maju, dan terus menghasilkan karya-karya yang bisa membuat perfilman Indonesia bisa berada pada peta perfilman dunia.

Informasi lebih lanjut, silakan mention mbak Lala via Twitter di: @lalatimothy


- Tetap cintai Film Indonesia dulu, kini, dan nanti -

Selasa, 21 September 2010

Film Segera di Layar Mulai Oktober 2010

Madame-X
Sutradara: Lucky Kuswandi
Produksi: Kalyana Shira Produser: Nia Dinata
Casts: Aming, Shanty, Joko Anwar, Fitri Tropica


Midnite: 25 September 2010
Tayang reguler: 7 Oktober 2010


Satu Jam Saja
Produksi: Karno's Film
Sutradara: Ario Rubbik
Cerita: Rano Karno
Cast: Vino G Bastian, Revalina S. Temat, Andhika Pratama


Tayang: 7 Oktober 2010

Aku Atau Dia
Hearbreak.com II
Casts: Fedi Nuril, Julie Estelle, Rizki Hanggono, Ananda Omesh


Safana
Casts: Ikranagara, Ridho Slank, Kinaryosih
Tayang: Oktober 2010


Senggol Bacok
Sutradara: Iqbal Rais
Tayang: November 2010


Rindu Purnama
Sutradara: Mathias Muchus
Penulis: Ifa Isfansyah
Produksi: Mizan Productions
Casts: Titi Sjuman, Teuku Firmansyah, Ririn, Salma,

Tayang: Akhir tahun



Rumah Tanpa Jendela
Dari Novel Karya: Asma Nadia
Produser: Intan Ophelia, Smaradhana Pro dan Kak Seto
Sutradara : Aditya Gumay
Penulis skenario: Adenin Adlan dan Aditya Gumay
Pemain: Emir Mahira, Tasya, Aty Cancer, Alicia Johar, Aswin Fabanyo, Ozan Ruz, Maudy Ayunda, Varissa, Genta Windi Lestari, Billy Davidson, Rahmat Syahputra, dll

Tayang: Akhir tahun


Mafia Insyaf
Cast: Atiqah Hasiholan, Tora Sudiro


Perth with Love
Casts: Gita Gutawa, Derby Romero


Selingkuh
Produksi: MVP Pictures
Casts: Julie Estelle, Laudya Chintya Bella


London Virginia
Casts: Gading Martin, Cheverly Amalia
Tayang: Oktober 2010


Lost in Papua
Casts: Fanny Fabriana, Fauzi Baadilla, Edo Borne


Simphoni Luar Biasa
Sutradara: Awi Suryadi


Nyanyian Lembah Baliem
Tayang: Hari AIDS


2011

Bumi Manusia

Senin, 20 September 2010

Film-Film September 2010, Bulan Box Office Tahun Ini?




Sepanjang Januari-Juli 2010, telah dirilis 51 judul film di bioskop Indonesia dengan rata-rata 5-9 judul film baru setiap bulannya. Khusus di bulan Agustus 2010, film Indonesia menorehkan satu catatan dalam perjalanan panjangnya. Tidak ada judul film baru yang tayang di layar bioskop!

Setelah vakum selama satu bulan, pecinta Film Indonesia langsung disuguhi 4 judul film baru pada 8 September 2010 dari berbagai macam genre. Sebut saja mulai dari genre komedi, drama musikal, film perang sampai genre biopic. Film-film yang digadangkan sebagai film libur lebaran ini dirilis tepat 2 hari sebelum Idul Fitri 1431 H. 'Sang Pencerah', 'Darah Garuda (Merah Putih II), 'Dawai 2 Asmara' dan 'Lihat Boleh Pegang Jangan'. 4 film dengan 4 karakter berbeda ini berebut hati penonton yang ingin merayakan 'kemenangan' setelah berpuasa 1 bulan Ramadhan, dan 'puasa' 1 bulan tanpa film Indonesia di layar bioskop. Moment yang paling ditunggu setiap tahunnya!

Dari tanggal 8 September, hingga tulisan ini di-upload, keempat film tersebut masih mendominasi layar bioskop. Semoga masih akan berkibar sampai pekan ke-3!
Dari segi pencapaian penonton, 'Darah Garuda' karya Yadi Sugandi & Connor Allyn mengklaim telah mencapai 700.000 penonton dalam 1 minggu penayangannya (via @detikhot). Sementara film 'Sang Pencerah' karya sutradara Hanung Bramantyo sampai hari ke-12, berhasil meraih 617.000 penonton (dari tweet official account @hanungbramantyo).

Memasuki pekan ke-3 bulan September, layar bioskop akan kembali diisi dengan karya sutradara misterius, Nayato, sekaligus dengan 2 filmnya pada tanggal 23 September 2010. Tercatat 'Pengantin Pantai Biru' dan 'Pocong Jumat Kliwon' akan ikut meramaikan persaingan di layar. Film ini merupakan film ke 9 dan 10 Nayato di tahun ini. Sungguh suatu eksistensi yang amat sangat produktif.

Kedua jenis film ini seolah meneruskan genre sejenis yang sudah 'terlalu terbiasa' dan sudah terlalu banyak menuai kontroversi. Namun ternyata sampai lewat medio 2010, film jenis 'seragam' ini masih diproduksi. Tinggal kebijakan penonton dalam mengambil keputusan, apakah tetap akan menonton film ini.

Di hari terakhir bulan ini, tepatnya 30 September 2010, akan dirilis karya terbaru Monty Tiwa dengan genre perang-komedi, 'Laskar Pemimpi'. Merupakan film perdana Project Pop dalam formasi lengkap, dan film terakhir yang dibintangi Shanty sebelum mundur dari industri dunia hiburan Agustus 2010 ini.

7 film yang dirilis bulan September, 7 genre yang berbeda. Siapa yang keluar sebagai pemenang?
Perkiraan sementara, 'Sang Pencerah' dan 'Darah Garuda' masih berebut menjadi yang paling box office tahun ini. Karena sepanjang Januari-Juli 2010, pencapaian terbesar baru diangka 500ribuan penonton yang diraih film '18+'.

September bisa jadi bulan Film Box Office 2010.
Siapa pemenangnya? Masih ada waktu untuk menunggu hasil akhir.



Tetap cintai film Indonesia dulu, kini & nanti

Selasa, 14 September 2010

Sharing Proses Kreatif dari Music Director 'Sang Pencerah'




Proses Pembuatan Musik Film (Film Scoring)
By : Tya Subiakto Satrio

Sebenarnya saya adalah pemain "baru" dalam dunia musik perfilman, namun saya akan coba untuk berbagi tentang proses pembuatan musik film (film scoring) berdasarkan pengalaman saya.

Pada dasarnya, film scoring adalah proses akhir dari produksi sebuah film (post production). Seorang music director bekerjasama dg sutradara & penata suara. Biasanya sutradara meminta music director untuk membuat theme melody sesuai dengan karakteristik yg dibangun dari tokoh masing-masing pada saat pre production (awal produksi). Selain theme melody, biasanya sutradara & music director akan selalu bertukar pikiran (brainstorming) tentang konsep dari jenis musik atau instrument yg akan dipergunakan. Jika sutradara berbicara secara konsep visual (director's treatment), maka music director akan menerjemahkannya dalam musik. Dan untuk masalah teknis biasanya seorang music director berdiskusi dengan penata suara.

Dalam prosesnya, ada beberapa tahap yang harus dilalui dengan benar :

1. Picture Lock
Editing yg akan kita garap musiknya harus dalam keadaan lock (tidak berubah) dan editing telah dinyatakan selesai & disepakati oleh jajaran producer & sutradara.

Biasanya, seorang music director akan menerima picture lock berupa online cut. Online cut adalah editing yg sudah sangat final, termasuk 3D animasi apabila dikonsepkan seperti demikian. Namun apabila schedule produksi sangat padat, maka seorang music director menerima offline cut (editing yg benar-benar berasal dari hasil gambar shooting).

2. Proses Pembuatan Musik
Seorang music director harus melihat alur cerita dari awal sampai akhir. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seorang music director memberikan dramatic impact pada setiap scene & menjembatani antara sequence satu dengan yang lainnya. Perlu diperhatikan bahwa theme melody atau konsep musik yg telah didiskusikan dengan sutradara di awal produksi (pre-production) diimplementasikan pada sequence yang telah kita tentukan ketika kita menonton picture lock. Biasanya beberapa komposisi musik setiap sequence tidak boleh berbeda agar menjadi satu konsep yang utuh. Contoh : untuk sequence action A warna musiknya tidak boleh jauh dari sequence action B, dan sebagainya.

Yang terpenting, musik berperan penuh dalam membangun emosi penonton (building up the audience mood).

3. Proses Akhir
Seperti musik biasa, musik film pun membutuhkan penyelarasan akhir (mixing). Mixing musik pun dilakukan oleh sound engineer yg telah ditunjuk oleh music director. Setelah mixing selesai, baru kita serahkan kepada penata suara utk dilakukan mixing & mastering dengan dialogue & SFX (sound effects).

Biasanya seorang music director mendiskusikan dahulu tentang pembagian track dengan penata suara. Hal ini sangat penting karena semua tergantung dari output yg dibutuhkan.; apakah film yg sedang dikerjakan akan diputar dalam bentuk stereo, ultra stereo, atau dolby system. Khusus untuk dolby system, kita harus menyediakan beberapa separate tracks (track yang terpisah dalam frequency yg berbeda).

Setelah kita menyiapkan musik kita yg telah dimixing (baik full tracks untuk stereo maupun separate tracks untuk dolby system), kita memasuki proses akhir, yaitu music spotting. Music spotting adalah penempatan akhir musik dalam suatu rangkaian picture lock. Dan tentu saja, music spotting ini harus berada di bawah supervisi sutradara. Setelah musik sudah lock (tidak ada perubahan lagi), maka proses final mixing & mastering diserahkan kepada penata suara.

Demikian proses pembuatan musik film (film scoring) secara singkat. Semoga bermanfaat. Terima kasih.


- Keep on music -
Tya Subiakto Satrio



Untuk pertanyaan lebih lanjut silakan contact:
Email : tyasubiakto@yahoo.com
Twitter : @tyasatrio1979

Cari Film Indonesia

Kami Kirimkan Posting Terbaru Melalui Email Anda:

Website Resmi OfficialfilmIndonesia.com